Minggu, 15 Oktober 2017

Beck Melakukannya Lagi Dalam Colors

Beck Melakukannya Lagi dalam ColorsFoto: dok. Istimewa
Jakarta - Beck melakukannya lagi. Sepanjang karirnya, Beck memang selalu dikenal senang melaksanakan eksperimen dengan aneka macam jenis musik. Mulai alternative hip hop pada 'Mellow Gold' (1994) dan 'Odelay' (1996), berekperimen dengan funk di 'Midnight Vulture' (1999), sampai merilis terakhir folk rock melankolis, Morning Phase (2014).

Kali ini, ia membawa semua elemen yang dipelajarinya selama 25 tahun terakhir ke album-13-nya, 'Colors'. 'Colors' menjadi album penuh pertama semenjak Morning Phase merebut gelar Album of The Year di Grammy Awards di tahun 2014. Album ini juga sekaligus menandai reuni antara Beck dan Greg Kurstin, salah satu produser musik paling dicari ketika ini, sekaligus sobat usang yang pernah menjadi additional keyboardist player dalam tour 'Sea Change' di tahun 2002.

Dipuja puji dalam ulasan awal sebagai "ledakan euforia dari pop eksperimental" (Rolling Stone) dan "satu lagi tonggak sejarah dalam karirnya yang menakjubkan dan tak terduga" (Wall Street Journal), album Colors memang patut diperhitungkan sebagai salah satu rilisan penting tahun ini (atau bahkan sepuluh tahun terakhir) dalam sejarah musik pop dunia. Dalam 'Colors', Beck membentangkan pelangi yang memabukkan, seolah demam isu panas sedang mencoba untuk menghancurkan demam isu gugur.

Mungkin judul 'Colors' ini memang paling sempurna dalam membuktikan diskografi dari Beck; tidak retro, tidak juga futuristik, semuanya mempunyai ekspresi kinetik: ibarat sebuah palet kaleidoskopik yang berputar dengan bermacam-macam warna. Jauh berbeda dengan 'Morning Phase', 'Colors' mencerminkan momen-momen senang Beck bersama istrinya, Marissa Ribisi dan kedua anak mereka.

Pada 'Fix Me', Beck bernyanyi perihal bagaimana cinta dapat membuat kita melewati masa-masa "gelap" dengan jauh lebih mudah. Pada 'Dreams', ia mencontek Foster The People, namun lulus dengan nilai yang lebih cantik daripada nilai Mark Foster. Formula sama ia bawa ke pesta dansa 'Up All Night', sambil bernyanyi percaya diri "Just wanna stay up all night with you", sebuah perasaan yang ia temukan ketika berada di atas panggung. Ia menghidupkan kerinduan hits awal karir semacam 'Losers' atau 'Devil's Haircut' pada lagu berjudul 'Wow'. Beck juga menjadi penyeimbang dengan membuat 'Dear Life' yang simple, klasik dan Beatles-esque.

Itulah kelebihan Beck, mempunyai keseimbangan yang pas antara kreatifitas, idealisme, attitude, serta bakat yang jarang dimiliki oleh musisi lainnya, yang membuatnya bertahan di industri selama lebih dari 20 tahun dimana rilisan dan pemain – pemain gres bermunculan setiap harinya.

Colors ini seolah mengajak kita untuk melihat sekeliling, bahwa seburuk apapun sesuatu, insan masih punya satu sama lain. "Beberapa musik terhebat yang pernah dibentuk yaitu musik yang mengingatkan Anda akan keindahan hidup", kata Beck dalam salah satu interview media. Saya yakin karya ini yaitu salah satunya. Ya, ia melakukannya lagi.

Rendy Tsu (@rendytsu) ketika ini bekerja sebagai Social Media & Content Strategist. Selain aktif sebagai penulis lepas, ia juga pernah menjadi Music Publicist di salah satu perusahaan rekaman terbesar di Indonesia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar